Merindumu

1)
Dimanakah kamu saat itu…
Saat diri membutuhkanmu….
Namun kau sering menghilang…
Jauh melesat ke alam yang lain…
Melupakanku…
Meninggalkanku…sendiri
Dalam detik-detik yang penuh arti…

Kau biarkanku sepi…
Menangis…meratap…

Aku merindukanmu sayang…
Sebagaimana merindunya peraduan kita berdua…
Di saat…salat…
Ketika kita berdua bersatu…
menghadapNya…
di detik-detik malam…
kita beradu…
Jasad ini dan kau jiwaku…
MenghadapNya….
Mengadu dan berharap di sepinya malam…

Aku tahu…
Aku hanyalah jasad…
Yang seringkali menghadapnya…
Paling tak 5 kali sahaja….

Namun apa artinya diriku..
Tanpa dirimu di sisiku…
Oh jiwaku..
Aku kehilanganmu…
Di saat-saat itu…

Kembalilah kau…
Berpadulah denganku…
Saat suara-suara sayup adzan memanggil…
menghadapNya dengan penuh kesadaran…
dengan penuh rasa harap padaNya…

Kuingin
Nikmati detik-detik itu…
Bersamamu…

Kumerindumu….
Agar buah perpaduan khusyuk ini
Lahir…kembali…

By : oshee

11 62009v 2007 at 1:16 pm Leave a comment

Maafkan Aku Sepi!!!

salahku mungkin…
tak seharusnya aku mengeluh kesepeian
ketika sunyi dan kesendirian menjadi sahabat sejatiku

tak seharusnya aku mengeluh kesepian
kepada kau yang tak pernah tahu betapa dinginnya angin malam di bulan januari
tanpa ada tempat untuk bernaung

salahku mengeluh padamu
yang tak pernah tahu bagaimana rasanya hidup di balik dinding-dinding tebal dan tinggi
tanpa ada teman berbagi
kau tak pernah tahu bagaimana hidup dalam luka,dan tersendri terasing!!

ya, aku sadar aku salah mengeluh itu padamu
kau tak tahu itu
yg tak pernah menjadi sepertiku

seperti terkurung dalam kamar kedap suara yg gelap gulita
menangis dan mengerang ksakitan,tak ada satu orang pun yg medengar

ya kau bilang aku aneh
stlah skian lama bersahabat dengan sepi baru kini ku triak mengeluh
mungkin aku salah
maaf

aku coba tegar menjadi orang yg terasing
aku coba hibur diriku di balik dinding tebal dan tinggi ini
tanpa ada teman berbagi

aku sepi dalam sendri
dlu sendri
sekarang sendri
dan mungkin sampai nanti sendri

maaf…
biarkan aku sendri..
hingga kau pun mengerti sepi

By : Novie
lahore
01 november 2009

untuk kau yg tertawa akan kesepianku

11 52009v 2007 at 8:05 pm Leave a comment

Pendar Cinta-Mu Indah di Mataku

Gempa itu gemuruh dalam telingaku. Berdegum. Membelalakkan mataku. Membuka rahang mulutku. Tapi tak ada suara yang keluar. Hanya desis nafas yang abstrak. Heran, mungkin. Bukannya baru beberapa saat lalu bumi tempatku berpijak digoncang gempa. Retak tanahku membuat langkahku kini semakin awas.

Tapi di kejauhan ada senyum terkembang. Senyum para korban. Ah, mungkin itu hanya lamunku. Mana mungkin sang korban tersenyum dalam kenestapaan dan porak-porandanya hidup mereka. Tapi ini benar, mungkin hanya aku yang tahu.

Kalau memang benar senyum itu terkembang dari wajah sebagian korban itu, mungkin karena ia merasakan bahagia. Yah, mungkin saja mereka memandang hancur berantakannya hidup mereka oleh gempa itu adalah jalan singkat untuk menata kembali hidup mereka. Menjadi bangunan hidup yang lebih baik dan indah tentunya.

Tapi ternyata senyum itu tak hanya milik mereka, ada wajah lain yang juga melukis senyumnya. Senyum dari para manusia yang jauh dari lokasi bencana. Mereka memang bukan korban, jadi wajar. Aku rasa tidak juga? Mereka bukan sedang bersenang-senang di atas penderitaan para korban itu. Aku rasa mereka hanya tak bisa menahan kegembiraan hatinya. Gembira. Ya, rasa gembira itu memang sebuah kegembiraan yang nyata. Mereka hanya ingin sejenak memadu senyum bahagia, karena kemungkaran itu telah turut lenyap terkubur reruntuhan bangunan dan tebing pegunungan negeri ini.

Mereka memang tak bisa menyembunyikan kegembiraan itu. Bukan karena ingin melukai hati para korban. Tapi karena memang himpitan kemungkaran itu telah lama membuat nyilu jiwa mereka. Menyisakan sayatan luka dalam ruhani mereka. Membuat lebam setiap persendian mereka. Dan mungkin, inilah saatnya mereka tak merasakannya kembali. Agar jiwa mereka bebas melukis sketsa-sketsa jalan kebahagiaannya. Jadi, sejenak tersenyum melepas segala penyakit itu boleh kan? (Maaf, sekali lagi senyum itu bukan bermaksud untuk bersenang-senang di atas penderitaan saudara-saudaranya yang menjadi korban.)

Tapi ada makna lain yang kurasa dari pendar cinta-Nya. Oya, boleh kan aku menyebut gempa ini pendar cinta-Nya. Kalau kita tak merasa, mungkin hanya aku. Tapi memang aku merasakannya. Merasakan pendar cinta-Nya yang indah di mataku. Maka, tak heran jika kutatapnya lekat. Dan biarkan aku berbisik kepada-Nya tentang ini. Cukup berbisik kurasa, karena Tuhanku Maha Mendengar. Walaupun begitu, kau pun boleh mendengar. Inilah bisikku pada-Nya.

(Dalam kesunyian batin aku menatap pendar-pendar cinta-Nya sambil berujar akan segala makna yang kutangkap.)

…………………………

Kutatap pendar cinta-Mu. Cemerlang!!

Kini benakku mulai berpikir brilian. Hanya cita kebaikan yang mendesak-desak kuat. Menelisik dan lesat dalam lorong-lorong lamunku. Heran. Sejak sekian masa, kini nurani yang menjadi fitrahku itu kembali lagi. Saat jiwa ini bertemu dengan hentakkan taqdir-Mu.

Adakah gempa yang Kau cipta telah menggemuruhkan segala bisik kesadaran. Saat segala keangkuhan duniawi runtuh di tangan-Mu. Merayap segala retak dalam jiwaku yang rapuh. Berderit sakit menyisir segala noda di hati. Bahkan borokku kupaksa agar segera tanggal dari jiwaku. Agar busukku berubah aroma wewangian surga-Mu.

Kutatap pendar cinta-Mu. Dahsyat!!

Tiba-tiba hatiku tergetar. Mata ini pun harus mengerjap seketika, setelah selama ini membelalak dalam tatap kekaguman pada fatamorgana dunia. Sedikit silau memang. Ternyata masih ada keagungan yang lebih dahsyat milik Sang Pemilik alam. Dan aku baru tersadar kembali.

Lalu, ke mana terlabuh segala sesajen yang kualirkan diperairan negeriku. Saat keimanan bukan lagi pada pengesaan-Mu. Tetapi melebihi pada satu kekuatan alam yang kutakuti secara buta.           Bukan-Mu tentunya, tetapi pesaing-pesaing-Mu dari sesembahan lain -tak tahu berasal dari mana- yang kumunculkan dalam keseharian hidupku.

Kutatap pendar cinta-Mu. Kagum!!

Sungguh jitu cara-Mu. Segala keindahan dan kelincahan gaya ajar-Mu kepada kami. Menyentuh yang tak terlalu menyentuh. Mengelus yang tak terlalu mengelus. Bahkan, membentak-Mu tak terlalu membentak.

Tapi sekali lagi kini kagumku pada-Mu semakin menjadi-jadi. Bagaimana mungkin dengan sedikit sentil Kau mengubah arah labuhku. Bagaimana mungkin dengan sedikit kibas Kau membuka jalan solusi bagi keselamatanku jauh untuk masa depan. Masa depan akhirat penuh keagungan dan keindahan cipta karya-Mu.

Kutatap pendar cinta-Mu. Sejuk!!

Ketika air rahmat-Mu dalam aneka ragamnya mampu menghapus gundah gulana jiwa. Tangan-tangan nafsu angkara kami mulai terlucuti dari kemesraan gilanya. Memegang kembali warisan Rasul-Mu, Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Agung syair abadi-Mu dalam rangkaian firman. Dan semakin tuntas kepuasan batinku saat tergenapi oleh jejak kata dan gerak sunnah Rasul-Mu. Beginikah rasa hidayah itu? Hidayah setelah hentakan keras adzab-Mu. Entahlah, aku sendiri juga tak yakin. Apakah gempa ini adalah adzab atau ujian dari-Mu. Pastinya, dibalik semua itu kutemui kesejukkan iman kepada-Mu.

Kutatap pendar cinta-Mu. Hangat!!

Ternyata dinginnya kucuran hidayah-Mu tak sampai membuatku menggigil. Ada balutan iman yang membuat jiwaku kini perkasa. Kokoh menghadap angkara. Tegap pada setiap ketidakadilan dan kedzaliman. Bahkan suara lantangku kini keluar menghadang setiap kemunkaran tanpa getar. Seakan pita suaraku menjadi jernih karena aliran hidayah-Mu. Tapi tak membuatnya keriput, bahkan bergetar dalam gigilnya.

Jari-jemariku kini pun mulai kuat. Tanganku, pergelangan, dan sekujur tubuhku. Semua serempak bersinergi pada kerja kebaikan. Seakan asupan wedang jahe, aliran darah di tubuhku kini normal kembali. Organ-organ kini bisa berfungsi semula sesuai titah Tuhannya. Tak ada lagi mati rasa, kakunya kaki atau tangan, keseleo lidah, dan aneka macam penyakit tak berguna yang hanya memakan masa usiaku.

Kutatap pendar cinta-Mu. Indah!!

Memang indah, kali ini aku tersenyum. Mengapa tak sedari dulu aku metatap cinta-Mu. Padahal kutahu cinta-Mu selalu berpendar di setiap sudut hidupku. Ah, memang saat itu aku masih berada dalam kubang kegelapan. Wajar mataku masih terlalu silau untuk menatap pendar cinta-Mu. Jari jemariku juga masih kaku kedinginan karena mendekam dalam gelap, sehingga sulit untuk meraba cinta-Mu. Apalagi mulutku, setelah lama berada dalam kubangan itu selalu merasa mual dan ingin muntah, sehingga tak kuasa untuk berucap bahwa aku mencari cinta-Mu.

Tapi kini indah, itu yang kutatap. Paling tidak dari pendar cinta-Mu. Retak yang kau tinggalkan di tanah tempatku berpijak, kini membuatku lebih berhati-hati dalam berjalan meniti hidupku. Lebam yang kau torehkan pada sekujur tubuhku, kini membuatku lebih berhati-hati untuk bersentuhan dengan apa yang ada di sekitarku. Bibirku tak boleh terkoyak lagi, mataku tak boleh memerah lagi, dan segala organ lainnya kini harus lebih kujaga.

Agar indah pendar cinta-Mu yang kini kutangkap dengan mataku bisa tetap abadi dalam tatapku. Dan pikirku cemerlang, citaku dahsyat, hatiku sejuk, dan langkahku hangat, karena memandang pendar cinta-Mu yang indah di mataku.

(Irfan Azizi, Islamabad 11 Oktober 2009)

Saat kutatap semua peristiwa hidup ini ternyata cinta-Nya yang berpendaran dalam mataku.

11 52009v 2007 at 7:51 pm Leave a comment

di Balik Agendanya

Sudah sebulan berlalu, tapi aku belum bisa melupakan dia, mungkin 5 tahun kenangan pahit dan manis yang terukir dan sudah mengakar dalam hatiku, setiap kali aku masuk kekamar kos ku, mataku langsung menyapu pojok ruangan itu, seakan dia menceritakan kenangan-kenangan indah yang kulewatkan bersamanya, kasur biru mengingatkan tubuh itu yang terlelap dibawa mimpi saat aku pulang terlambat, senyum manis dengan secangkir lemon tea menyambutku kalau aku pulang cepat, disana juga aku melihat tubuh itu mendengkur dan kadang tertawa riang, kadang juga kasur itu menjadi saksi bisu kalau aku lagi usil mengganggu dia tidur. Sekali lagi mataku jatuh pada sebuah rak buku tua, yang ditemani sebuah cermin berukuran besar, ya… cukup besar untuk kupakai buat menari-nari ketika kupakai baju. Rak itu penuh dengan buku, kadang-kadang aku juga sering melihat dia membolak-balik isi rak itu sampai jam 2 malam, rak buku yang menjadi saksi bisu ketika dia mengatakan,

Men, kalau aku nggak ada lagi kamu bakal dapat warisan buku banyak, enak kan?”. Saat itu pun aku menjawab,

” Ooo…pasti choy…buku gratis!!”, kataku sambil tersenyum. namun dia membalas,

Hati-hati lho..ntar waktu ente buka-buka buku, kepalaku nongol..hi..!!”.

katanya sambil tersenyum, masih terlukis jelas senyuman itu dikepalaku,

Kepala? sapa takut? aku tutup aja bukunya biar kepala nte benjol!!he…” balasku seenaknya. Cermin itu juga mengingatkanku pada hobinya yang suka mendadani rambut, mungkin aku bisa menghitung dalam 10 menit 3 kali gaya rambutnya berubah, setiap kali dia disana,dia mengatakan padaku,

Selain buku kamu juga bakal dapat warisan cermin men…tapi jangan sering-sering bercermin disini ya…..”. Aku tidak pernah menganggap semua itu serius, aku Cuma mengira dia bercanda, aku tahu hobinya mengarang cerita, bercanda, satu jam bicara sama dia, mungkin Cuma dua menit yang serius, tapi…Aku nggak pernah mengira, ajal memang nggak pandang bulu,  banyak orang tua berumur 80 tahun masih sehat, mungkin inilah garis kehidupannya, 22 tahun telah tertulis baginya untuk menghirup udara, menikmati indahnya dunia, merasakan pahitnya kehidupan, tapi aku yakin, dia pindah ketempat yang jauh lebih baik dari kamar kos ini!!

Suatu hari dia pernah berkata “men, kebanyakan orang tua menyegerakan tidur malam dan bergegas untuk bangun di pagi harinya mungkin karena mereka tidak ingin kehilangan waktu sedikitpun di akhir masa mereka yang sudah dekat ajal. Sedangkan sebaliknya, para pemuda rela begadang dan suka bangkong mungkin karena mereka merasa waktu mereka masih panjang dan lama. Lucu ya.. Padahal mereka tak pernah tahu kapan ajal menjemput” ungkapnya dengan penuh senyum. Aku tak pernah menanggapi keseriusan dari apa yang dikatakannya, kuhanya anggap itu angin lalu saja. Tapi anggapanku malah berbalik menjadi sebuah kenyataan.

Kutatapi terus rak buku itu, rasanya mataku tidak ingin berpaling, dan tanpa terasa pipiku basah, air mataku mengalir. Sejak dia pergi, rak itu tidak pernah kusentuh. Tepatnya Jum’at malam, berita duka yang sampai di telingaku itu terus terngiang. Sejak gempa Sumbar berskala 7,6 skala richter yang memporak porandakan semuanya, meluluh lantahkan bangunan rata dengan tanah, dan tentu memakan ribuan korban itu betul-betul menghantuiku diselimuti rasa khawatir, galau, dan risau, terlebih ketika tak bisa kuhubungi nomornya sejak saat itu. Hingga akhirnya kuterima kabar dari milis almamaterku yang mengabarkan bahwa dia sudah tiada.

Entah kenapa, malam ini ingin rasanya aku membuka rak itu, ingin rasanya kubolak-balik lembaran putih itu, ditempat jari-jarinya pernah menari-menari sambil ditemani lagu Cinta Terlarang-nya The Virgin, tapi I’m yours milik milik Jason mraz paling dia suka. Kudekati rak itu perlahan, aku duduk bersila di depan rak itu, menatap setiap buku yang seakan sedih ditinggal tuannya, hati kecilku berkata,

Jangan kau bersedih, anggap saja aku Tuanmu yang baru, kau mencintai tuanmu seperti kamu mencintainya, aku akan merawatmu, aku tahu kamu sedih, tapi, apakah kamu tidak merasakan perasaanku? kita sama-sama ditinggal orang yang kita cintai! kamu ikut menemani dia di kamar ini, di kelas, di kampus, ditaman waktu malam minggu,, bersama senyuman dedaunan dan nyanyian burung-burung, tapi kamu tahu? Aku juga ada disana, bahkan aku bersama dia disaat kamu tidak ada, jadi tolong jangan tambah kesedihanku dengan tatapan sayumu…”

Tatapanku berhenti di buku hitam, bertuliskan BLITZA REMIGION 2005, buku agenda itu seakan tersenyum padaku, seakan berkata padaku,” Men..ambil aku..bukalah lembaran-lembaranku…jagalah aku…!”

Tanganku pun meraih agenda itu, agenda Alumni Pondok Modern Gontor 2005, dan aku sendiri juga memiliki agenda itu. Kutatap Agenda hitam yang sekarang sudah berpindah di tanganku, kutatapi terus…bibirku bergoyang, setetes air mata jatuh di atas sampul agenda itu, pas diatas huruf B, kuhapus tetesan itu perlahan, dalam hatiku aku berkata,

” Bro, maafkan aku, aku tahu ini agenda pribadi kamu, mungkin kamu tidak pernah mengijinkan seorang pun membukanya, tapi malam ini aku memberanikan diri membukanya, maafkan aku Bro, tapi aku merasa kamu seperti saudaraku, kamu sangat percaya padaku, sehingga semua masalah kamu ceritakan padaku, tapi aku tidak pernah punya kepercayaan padamu sejauh itu, maafkan aku Bro…”.

Sampul hitam Agenda kubalik perlahan, lembaran pertama berisi Biodata dan foto, fotonya tersenyum padaku setelah satu bulan kami berpisah, senyum yang sering kulihat didapur, mengaduk sambal, kadang juga senyum itu mengejekku ketika aku terlambat bangun subuh, tapi aku ingat senyum itu selalu ada waktu sedih dan senang. Setelah lembaran pertama terbuka, rasanya tak ingin aku membuka halaman selanjutnya, aku tidak kuat! Tapi hati ku menyuruhku meneruskan ke halaman selanjutnya, tanpa terasa air mataku menetes lebih deras. Lembaran selanjutnya kubuka, namun tidak ada yang kuanggap penting, mungkin hal itu sudah kuketahui semua lewat cerita-ceritanya, lembar demi lembar terlewati begitu saja, tanpa ada satu lembaran pun yang menarik perhatianku, lembaran terus lewat satu demi satu, mungkin hampir habis, tanpa sengaja halaman 42 menghentikan jari-jari ku, mataku tertuju pada lembaran itu, tulisan yang tertanggal 13 september sebelum sebelum dia pamit pulang ke Padang.

Malang,13 September 2009, 03.00 WS

“Aku teringat doa almarhum  Ust. Ahmad Sahal ketika pondok dapat musibah…

“Ya Allah berilah aku cobaan seberat-beratnya, dan berikan aku kekuatan untuk menjalaninya”.

Kiranya pantas sekali bagiku mengucapkan doa itu, malam ini kan mungkin saja Malaikat sedang mengumpulkan buku amalanku untuk dilaporkan kepada Sang Kholiq. Aku tak pernah tau kapan dan di mana Dia akan menjemputku, bisa saja malam ini.

Ya Allah…Aku nggak punya amalan yang bisa kugunakan untuk mendekatkan diriku pada-Mu, mungkin setiap detik nafasku tidak untuk mengingat-Mu, tidak untuk mensyukuri-Mu, Aku menerima takdir-Mu untuk pergi jauh dari keluarga, padahal Engkau tahu keadaan keluargaku yang serba kekurangan dan aku hanya bisa bersenang-senang di sini,meski aku lalai tapi aku menerima semua keputusan-Mu, aku pergi mencari keridhaan-Mu, mencari Ilmu, ajarkan aku cara bersyukur dengan mengamalkan apa yang aku miliki dari anugerah-Mu, jangan jadikan itu semua beban dosaku disaat aku menghadap-Mu, ajarkan aku mengamalkan ilmu-Mu!

Air mataku mengalir tambah deras, tanpa kusadari jenggotku yang tipis telah basah dengan air mata, rasanya tak sanggup kubalikkan lembaran selanjutnya, berat ya Allah…apa yang terjadi pada temanku ya Allah…kenapa aku tidak tahu…..kupaksakan membuka lembaran selanjutnya.

Malang, 14 September, 03.00 WS

“Dunia serasa tersenyum hari ini kepadaku, entah kenapa. Yang jelas hari ini aku harus pulang ke Padang. Itu anjuran sobat baikku si Armen yang tadi bilang kalo aku sedang dilanda rindu berat pada seseorang aku harus segera datangi dia atau paling tidak telepon, begitu katanya. Karena kita tidak pernah tau kapan terakhir kali kita melihatnya ato hanya sekedar mendengar suaranya, Izrail tak pernah mau terima tawar-menawar masalah cabut nyawa. Kupikir-pikir betul juga. Dah dua tahun aku belum pulang ke Kampung halamanku, aku rindu kedua ortuku. Maka aku putuskan besok pagi aku pulang ke padang. Tau gak kamu diary? Armen telah ngajarin banyak hal kepadakau untuk bertindak dan berbuat. Dia sahabat terbaikku dengan advicenya yang khas bisa meluluhkanku. Ah..anyway aku musti balik ke Padang dan berkumpul lagi bersama keluargaku, senangnya. Sampai jumpa ya diary…entah kapan kubisa toreh penaku lagi sama kamu. Tenang aja…masih ada Armen yang siap temanin kamu kok..he..he…

Wsalm.

Astagfirullah…aku merasa aku telah dzholim pada diriku sendiri,mengapa sedikitpun aku tak bisa merelakan sepeser duit untuk sekedar beli pulsa dan menyapanya tatkala aku rindu  padanya, dan akhirnya benar…aku tak bisa menatapnya lagi kini.

Seorang sahabat kadang jarang kita hargai, ketika udah nggak ada lagi baru merasa kehilangan, bukankah dia saudara kita dengan Ibu yang tidak sama? Bukankah persahabatan adalah ikatan yang tak kenal ruang dan waktu? Ketika kamu punya pacar, pasti setiap hari pikiran kamu dihiasi rasa cemburu? Kalo udah putus…yakinlah nggak bakal ada peace lagi disana! Tapi sahabat….lebih dari itu…kebaikan sahabat terlalu indah untuk diungkapkan dengan kata-kata…terlalu banyak untuk ditoreskan lewat pena…

Bro….doaku selalu menyertaimu…aku janji akan selalu mendoakan mu…aku janji…..aku minta ijin ya kalau aku punya anak laki-laki kuberikan namanya seperti nama kamu?  Syahid Khotami…yang berkahir dengan kesyahidan.

By : Firman

11 52009v 2007 at 7:46 pm Leave a comment

Karena Aku Seorang Pelacur

Entah apa yang membawaku ketempat ini. Malam yang semakin larut di kota Jakarta yang tak pernah terlelap. Ku rasakan tubuhku semakin letih dan lelah, ku berjalan di lorong pertokoan di daerah mangga besar, Jakarta Barat. Jam telah menunjukan pukul 2.30 wib , ku kerahkan seluruh tenagaku untuk melangkah. Namaku Suratmi, aku tingggal di rumah kontrakan di daerah ini, hanya berada di belakang Lokasari Plaza. Aku tinggal bersama teman-teman seprofesi, tak banyak waktu kami habiskan bersama, karena kami sibuk dengan pekerjaan masing-masing.

Segala letih dan lelah tak ku hiraukan, demi anak dan ibuku yang telah tua renta yang berada di kampung halaman.

“Walo harus melacur?”

“Kenapa ga coba cari pekerjaan lain aja sih?”

“Melacurkan dosa Ratmi!!”

Kata-kata Rina yang masih terngiang di telingaku. Bukan aku tak takut dosa, tapi karena aku tak punya pilihan. Percakapan kami pada beberapa waktu yang lalu itu membuat hatiku tidak tenang. Rina seorang gadis berjilbab yamg aku kenal belum lama ini. Dia seorang gadis yang baik, sopan dan ramah. Dia bekerja sebagai seorang penjaga kasir pasar swalayan di Lakasari. Rina banyak memberiku nasihan-nasihat kehidupan, walau umur kami tak berbeda jauh tapi dia nampak lebih dewasa.

Rina memang tidak sekolah tinggi hanya lulusan SMA, tapi dia jauh lebih beruntung dari pada aku. Aku hanya lulusan SD, SMP pun aku tidak tamat. Semenjak Ayahku meninggal pendapatan keluarga kami jadi memburuk. Ibuku yang hanya seorang penjual sayur-sayuran di pasar. Adikku satu-satunya meninggal karena sakit keras dan kami tak mampu membawanya berobat. Aku pun tidak bisa melanjutkan sekolah, karena tak ada biaya dan karena aku harus membantu ibu jualan. Pada usiaku 15 tahun aku dinikahi oleh seorang guru Madrasa di kampungku. Kehidupan kami pun membaik, mas Tejo begitu sayang pada aku dan ibuku. Di usia 5 bulan pernikahan kami, aku mengandung, dan kami pun di karuniakan anak laki-laki yang tampan.

Aku sangat bahagia saat itu, walau hidup kami sangat pas-pasan namun kami hidup sejahtera dan harmonis. Keluarga kecil dan sederhana bukanlah alasan bagiku untuk tidak bahagia. Aku bangga dengan suamiku, walau dia hanya lulusan Madrasah tapi dia pria yang soleh. Banyak hal yang dia ajarkan padaku, karena aku memang tidak paham benar tentang agama.

Hari itu  suamiku di mintai untuk mengisi acara ceramah di kota lain.

“Dek mas pergi dulu ya?” Kata mas Tejo sebelum Sebelum berangkat.

“Assalamualaikum”.

“Wa’alaikumsalam”, jawabku sambil tersenyum.

Tak pernah kusangka hari itu adalah hari terakhir ku melihatnya, mencium tangannya dan melihat senyuman manisnya. Hari yang membawaku ke dalam mimpi buruk, sungguh ku tak pernah ingin mengingat hari itu. Lagi-lagi ku kehilangan orang paling ku cintai, bis yang ditumpangi suamiku setelah pulang memberi ceramah mengalami kecelakaan dan jatuh kejurang, tak ada yang selamat dalam kecelakaan itu termasuk suamiku. Ketikaku mendengar berita itu ku hanya terdiam, hariku terasa hancur berkeping-keping.

Kehidupan kami kembali memburuk, anakku yang baru berumur 2 tahun harus hidup tanpa ayahnya.

“Bu, aku mau ke Jakarta!” kataku pada Ibu.

“Ke Jakarta?mau apa kamu kesana?”

“Aku mau cari kerja bu, si Wati ngajak aku kerja disana, gajinya lumayan bias buat kita hidup”.

“Kerja apa kamu disana?dan gimana dengan anakmu?mau kamu bawa?”

“Wati bantu-bantu di rumah orang kaya, katanya gaji lumayan gede. Ya Agus ndak aku bawa, nanti yang ada malah ganggu aku kerja.”

“Ya udah biar ibu yang warat anakmu, Sampai kamu kembali ya nduk.”

“Kamu hati-hati ya di kota sana.”

Aku pun berangkat ke Jakarta dengan penuh harapan, Wati membawaku kesebuah agen pembantu dan kemudian aku dikirim ke rumah dimana tempat aku akan bekerja. Bulan-bulan pertama memang begitu berat bagiku karena aku memang belum berpengalaman menjadi pembantu rumah tangga, tapi aku berusaha keras untuk bisa melayani majikanku dengan baik.

Hari-hari berjalan terasa semakin berat, majikanku tak seperti yang aku harapkan. Nyonya majikan yang begitu sulit aku pahami dengan emosinya yang turun-naik. Siksaan demi siksaan ku alami dengan tabah, ku coba bertahan tanpa ku ratapi demi orang-orang yang ku cinta. Bulan-bulan berikutnya majikanku semakin menjadi-jadi gajiku selalu saja dipotong dengan berbagai alasan. Aku merasa semakin tak mampu menahan segala hinaan dan juga fitnah dari majikanku. Suatu ketika nyonya kehilangan uang dan langsung saja menuduhku pencurinya.

“Ratmi…Ratmi…” Teriakan nyonya

Iya Nyah ada apa?”

“Eh dasar orang kampung, kamu berani-beraninya ngambil uangku!”

“Dasar maling…”

“Ndak nyah, saya ndak ngambil uang nyonya…”

Belum selesai ku membela diri, tamparan keras ku rasakan di pipiku. Ku tak bisa berkata apa-apa ku hanya menangis dan memohon ampun. Setelah hari itu hidupku semakin tersiksa, majikan semakin bertindak seenaknya, dan selalu mengancam akan membawaku ke polisi jika aku melawan. Hatiku semakin hancur, ku tak tahan menahan segala rasa penghinaan ini. Ku putuskan untuk kabur dari rumah itu.

Aku memang orang kampung, aku tak kenal kota Jakarta yang keras. Tak ada kerabat atau teman yang aku kenal, yang aku kenal hanya Wati teman sekampungku dulu. Tapi aku tak pernah berjumpa dengannya sejak aku bekerja di rumah itu. Kini ku tak tahu harus kemana, ku tak punya uang untuk kembali ke kampung. Karena semua gajiku selalu aku kirim ke kampung dan gaji terakhir belum dikasihkan. Tak ada tempat berteduh dan tidur, aku kelaparan dipinggir jalan.

“Loh mba kenapa tidur disini, kan dingin malam-malam begini. Ikut aku ketempatku aja yuk!” Kata seorang wantia yang berdiri di depanku. Itu pertama kaliya aku berjumpa dengan Nita yang kini menjadi teman seprofesiku dan teman satu kontrakanku. Hasratku untuk merubah hidup membawaku ke dunia yang gelap tanpa ujung. Kini ku terdampar tak berdaya, dalam hati kecil ku ingin sekali keluar dari dunia ini. Tapi apakah mungkin? apakah masih tempat untukku di luar sana?

Kebimbangan dalam hatiku kini yang membuatku tak tahu arah mana yang akan ku ambil. Ku inginkan kehidupan yang jauh lebih baik. Demi orang-orang yang aku cinta, demi ibu dan anakku, segalanya aku korbankan untuk membahagiakan meraka. Aku tak ingin meraka tahu apa yang ku kerja kan selama ini, ku tak ingin meraka tahu kegagalanku di kota ini. Tapi Rina selalu berusaha membantuku untuk keluar dari dunia yang gelap ini.

“Ratmi… sebaiknya kamu mencari pekerjaan lain”, kata Rina sore tadi.

“Iya aku pun maunya begitu tapi aku dapat kerja dimana? Aku Cuma lulusan SD Rin.”

“Ya kebetulan bibiku yang tinggal di pasar minggu lagi butuh orang bantu dia di warung nasinya, memang gajinya tak seberapa tapi aku rasa itu awal yang baik untuk mu” jelas Rina dengan sabar.

“Sebaiknya kamu cepat-cepat bertobat Rat!”

“Tobat?”

“Apa dosa-dosaku akan di ampuni?”

“Rat Allah itu maha pengampun, kalo kamu benar-benar tobat insyAllah di ampuni segala dosa dan kekhilafanmu.”

“Bagaimana dengan masyarakat? Apa mereka bisa menerimaku?”

“Kenapa tidak? Mereka pasti bisa.”

“Rin, kamu tahu aku ini siapa, kamu mungkin bisa terima aku tapi mereka…”

“…mereka belum tentu bisa”

“Loh memang kenapa? Menurutku kamu orang baik, dan tak ada alasan untuk tidak memberikan kamu kesempatan kedua”

“Ya… Karena aku seorang pelacur Rin, mereka akan jijik jika melihatku dan juga meghinaku”

Nafasku tersengal, airmata mengalir tanpa ku sadari, rasa takut dan bersalah dengan apa yang telah ku perbuat. Tapi Rina selalu ada untukku, selalu meyakinkan bahwa niatku untuk keluar dari dunia yang gelap ini adalah keputusan yang tepat.

“Sudahlah Ratmi, yang penting kamu usaha dulu ya, dan tenang saja, aku tidak akan cerita apa-apa pada bibiku tentang profesimu ini, jadi kamu bisa kerja dengan tenang.”

Hingga ku putuskan untuk pergi dari dunia gelap ini dan memulai hidup baru. Aku sungguh beruntung berteman dengan Rina, gadis yang sopan dan baik hati. Ku ingin merubah kehidupanku yang gelap tanpa arti ini. Semoga masih ada tempat untukku disana.

***

Lahore, Desember 2008

By : Novie

11 52009v 2007 at 7:34 pm Leave a comment

Ku Tunggu di Regal Chowk

Bulan Mei yang begitu menyengat, hiruk-pikuk kota Lahore yang khas. Aku yang kini tengah hampir 2 tahun tinggal di kota Lahore ini pun ternyata belum terbiasa menghadapi musim panas yang begitu dasyat. Padahal bulan ini barulah awal dari musim panas tapi sudah membuat darahku mendidih. Aku seorang mahasiswi S1 tingkat 2 universitas tehnik di kota Lahore ini. Sesungguhnya terasa sangat berat hidup berjauhan dengan orang tua di negeri Pakistan yang masih asing bagiku. Menuntut ilmu demi masa depan dan orang tua adalah hal yang menjadi alasan utama, aku mau berada disini saat ini.

Rasanya aku enggan beranjak dari kamarku. Namun hari ini aku harus siap menghadapi sengatan matahari itu, demi kekasih hati harus kupaksakan diri,  merelakan tubuhku terpanggang matahari. Bertemu seorang kekasih yang kelak akan menjadi imamku, yang akan menjadi panutan hatiku dan yang akan membimbingku ke surga. Mas fadly lelaki yang ku kenal sejak aku berada di negeri ini, seorang mahasiswa Punjub University yang siap menyandang gelar Master. Lelaki yang akan mengikat janji suci denganku, dalam dua bulan mendatang. Kami bertunangan sejak bulan juni tahun lalu tepatnya 10 bulan yang lalu.

Hari ini kami berjanji akan bertemu di tempat biasa, Regal Chowk. Tempat yang cukup jauh dari asramaku, kurang lebih 30 atau 40 menit perjalanan dengan reksa. Namun tak begitu jauh dari asrama tempat mas Fadly tinggal. Mas Fadly seorang yang baik dan sangat peduli padaku, sejak pertama kali aku datang ke negeri ini, dia lah orang yang banyak membantuku. Karena di Lahore memang tak banyak penduduk indonesia yang tinggal, pelajar pun ada beberapa, yang mayoritas adalah pelajar dari madrasah-madrasah di kota ini.

grrr….grrrr…. getaran terasa yang berasal dari handphoneku, tertanda ada sebuah pesan yang masuk.

” Dee, lg apa?jd ketemuan kan??jgn lupa jam 3 nanti.”

Isi pesan itu dari seorang yang paling aku cintai, dengan segera kau membalas.

” Iya mass, aku ud mw siap2 nih. C.U  yaaa. “

Ku tersenyum simpul, hatiku begitu senang ingin berjumpa dengannya. Kesibukan masing-masing membuat kami  menjadi jarang bertemu. Mungkin seminggu sekali atau bahkan dua minggu sekali. Ku lirik jam dinding di sisi kamarku menunjukan pukul 01.00 . “siap-siap ah”. Ku berkata pada diriku sendiri sambil tersenyum.

Aku begitu bersemangat ingin jumpa dirinya, namun tak lupa ku tunaikan kewajibanku sebagi seorang muslimah, menghadap Sang Pencipta yang telah banyak memberiku nikmat ini.

” Segar rasanya setelah sholat”.

Jam dinding kini telah menunjukan pukul 2.15, dan aku pun beranjak meninggalkan kamarku, menuruni satiap tangga di asramaku. Udara panas menyapu wajahku, ku tinggalkan asrama. Ku hentikan sebuah reksa yang datang menghampiriku.

” [1]Regal Chowk jana?” kata ku dalam bahasa urdu.

“[2]KIitna pesse??”

“[3]Ek soo” sahut si pengendara reksa.

” [4]nahi, Ashi!!” pintaku.

Sang pengendara reksa pun menyetujui tawaranku. Tak percuma dua tahun aku disini, sedikit-sedikit aku bisa bahasa urdu, untuk mempermudah berkomunikasi dengan warga sekitar.

” Mas, aku jalan” . Sebuah pesan singkat ku tujukan kepada mas Fadly.

Aku sengaja berangkat lebih awal, karena takut macet. Regal Chowk tempat kami berjanji bertemu tak jauh dari pasar yang terkenal disini, Anarkali. Tempat yang sangat rawan macet.

” Iya mas juga ud siap berangkat, ketemu disana yaaa”. Balas mas Fadly.

Perjalanan yang cukup melalahkan, udara yang panas asap kendaraan yang menyesakan dada ini, dan akhirnya aku pun sampai ke tempat tujuan. Dengan mengeluarkan selembar uang ratusan ku berikan kepada pengendara reksa.

” [5]Syukriah”. Sahutku saat mengambil kembalian.

Ku cari tempat teduh untuk menunggu, ku pilih halte bis yang berada di depan toko manisan. Hatiku terasa berdetak kencang, tak sabar ku menunggunya. Kerinduan yang tak tertahankan meluap dalam panasnya matahari. Ku lirik jam tangan, menunjukan pukul 2.50.

” Mas aku udah sampe di regal, aku di halte depan toko manisan. Mas ud smpe mana? ” ku kirim kan pesan singkat kepadanya.

Detik demi detik ku tunggu kedatangannya, hari terasa semakin memanas. Tubuhku telah basah dengan keringat, 15 menit sudah berlalu, mas Fadly belum datang. “Koq tumben telat? ” tanya dalam hatiku, ” Macet kali”.

Aku mulai gelisah, panas dan juga tak tahan rasanya orang-orang yang lalu lalang di depanku memandangku seperti ingin menikam. Padahal aku berjilbab dan pakaianku pun tidak ketat, itulah anehnya kebiasaan orang-orang disini. Selalu melihat orang-orang asing sepertiku dengan tatapan tajam yang mengarikan. Ku lirik kembali jam tanganku kini menunjukan pukul 3.30. ” Kemana dlu yaaa dia”, tanya hatiku sambil mengerutkan kening. ” Sms yang tadi juga belum di balas”, pikirku. Ku coba menghubunginya, namun ternyata handphonenya tidak aktif.

” Koq ga aktif? mati kali ya handphonenya”, Pikirku.

Hatiku yang cemas, ku coba tenangkan hati, perpikir postitif dan jernih. Tak terasa hari berlalu dengan cepat, kini jam tangganku menunjukan pukul 7.30, namun dia belum datang juga. Hatiku yang cemas kini bercampur kesal, dan lelah. Ku coba hubungi dia kembali namun handphonenya tetap tidak aktif. ” Nih orang kemana sih, jadi ketemuan kaga sih, ga ada kabar ga ada apa”, kataku dalam hati.

Emosi yang begitu meluap, membuatku tak tahan menunggu, dan ku putuskan untuk pulang. Sepanjang perjalanan pulang pikiranku melayanglayang, pikiran buruk mulai menghujamku. Tetap ku coba menghubungi dia, ingin ku tahu apa alasan dia tak datang dan membatalkan pertemuan yang telah lama ku tunggu-tunggu ini. Hari yang melelahkan, ku ingin segera terlelap. Tapi kuteringat belum menunaikan kewajiban ku, ku ku ambil air wudhu, terasa begitu menyejukan hati. Ku mencoba memejamkan mata, dan berharap besok pagi dia akan menghubungiku, menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.

Pagi pun datang menyapaku, ku masih merasa lelah dan mengantuk. Terdengar suara adzan bergema di seluruh pelosok kota. Ku lirik handphone ku, mungkin ada pesan yang masuk saat aku tertidur, namun ternyata tidak ada pesan yang masuk. Ku beranjak dari tempat tidurku menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu.

” Ya Rabb, ampunilah hambaMU ini. Jauhkan lah hamba dari buruk sangka kepada seorang yang ku cintai. Lindungilah dia dari segala mara bahaya, Amin”.

Ku terdiam dalam lamunan,pikiranku melayang entah kemana. Apa yang terjadi sebenarnya, sungguh ku tak mengerti. Waktu berjalan dengan cepat, jam menunjukan pukul 6.30.

“Baiknya ku siap-siap untuk pergi kuliah”, pikirku.

Hari ini tersa begitu berat, ada sesuatu yang mengganjal pikiranku. Sepanjang hari di kelas, aku tak dapat berkonsentrasi terhadap pelajaran, aku masih memikirkan apa yang terjadi dengannya, hingga saat ini tak ada kabar. Setelah kelas berakhir, aku langsung pulang menuju asrama. Sesampainya di asrama, seorang penjaga asrama memberi tahuku bahwa ada seorang yang tengah menungguku di ruang tamu. Pikiran ku langsung tertuju kepada mas Fadly, mungkin dia datang untuk bertemuku. Aku langsung saja bergegas menunju ruang tamu asrama. Ku terkejut ternyata dia bukan lah mas Fadly, melainkan Pa Randry, salah seorang petugas KBRI.

” Assalamualaikum pa? apa kabanya pa? sudah lama nunggu yaa? “, tanyaku sambil tersenyum.

” Wa’alaikum salam, saya baik, iya tidak apa-apa kok, udah pulang kuliahnya? “, jawabnya.

” Iya pa, kiranya ada yang bisa saya bantu?”

” Begini dek Lina, saya cuma mau kasih kabar”, kata Pa Randry perlahan.

” Iya pa, ada kabar apa? kayanya penting banget nih sampe jauh-jauh ke lahore “, kataku santai.

” Dek lina yang sabar ya, Semalam kira-kira pukul 10 ada yang menghubungi pihak KBRI, mengabari bahwa si Fadly mengalami kecelakaan, kemarin pukul 2.30 tak jauh dari asramanya” , jelas Pa Rendry.

Aku sungguh terkejut tak percaya, hatiku terasa menyesak seketika.

” Untuk itu saya datang ke Lahore untuk memastikan kebenaran berita itu”, sambungnya.

” Terus bagaimana keadaan mas Fadly sekarang? Sekarang dia dimana? ” , tanyaku dengan penuh rasa cemas.

” Iya tadi saya dari rumah sakit, tapi maaf dek lina,kecelakaan itu begitu dasyat…” ,  air mataku tak tertahankan lagi, membasahi pipiku.

“tim dokter berusaha menyelamatan Fadly…”

Suasana menjadi begitu sunyi dan mencekram.

“ namun….”

“…Tuhan berkehendak lain”

***

vocab:

1.Regal Chowk jana?  = Ke Regal Chowk?

2.KIitna pesse?? = Berapa dwit??

3.Ek soo = 100 rupees

4.nahi, Ashi!! = ga ah. 90 rupees!!

5.Syukriah = terimakasih

By : Novie

Lahore 06-May-2008

11 52009v 2007 at 7:29 pm Leave a comment

Suratan Illahi

Aku termenung sejenak di depan laptop. Halaman isi gmail masih
terpampang dalam layarnya, menampilkan sebuah email yang masuk sore ini.
Tanganku masih memegang mouse, namun tanpa gerak sedikit pun. Mataku menatap
layar laptop yang kupinjam dari seorang teman. Aku biarkan layar itu dalam
kevakumannya. Tanpa perubahan tampilan. Jantungku seketika berdetak kuat.
Perasaan ngeri, takut, dan pasrah menyelimuti jiwaku.

Beberapa menit berlalu, mataku tak kunjung beranjak dari layar
segi empat itu. Tak bosan aku menatapnya, walau tetap saja tampilannya tak
berubah. Ya, karena sesungguhnya aku tak benar-benar menatap setiap inci
layar itu. Pandanganku jauh menembus layar itu. Menerawang nusantara yang
kini kutinggalkan. Meneliti satu persatu wajah sahabat-sahabatku yang
dirundung duka. Keluarga, kerabat, saudara, tak terwelat pula kedua orang
tuaku.

Berita duka itu datang dalam rentang waktu yang berdekatan.
Bahkan tiga hari terakhir datang secara beruntun. Tiga berita duka dalam
tiga hari. Aku sadar, setiap detiknya pun selalu ada kabar duka dalam dunia
kehidupan ini. Tapi kabar duka yang kuterima ini dialami oleh orang-orang
dekatku. Kalaupun bukan orang dekat, paling tidak mereka aku kenal, atau
setidaknya kami pernah menjalani kehidupan bersama dalam tautan
persahabatan.

Dua pekan yang lalu aku dan mahasiswa di Islamabad baru saja
menunaikan shalat Ghaib atas meninggalnya Ibunda dari dua rekan kami, Reza
dan Ghani. Tak lama dua hari kemudian aku mendapat SMS dari Ketua Persatuan
Pelajar dan Mahasiswa Indonesia (PPMI), mengabarkan bahwa Ayah dari saudari
kami Dinda telah berpulang ke rahmatullah. Esoknya, Kyai dari salah seorang
temanku, dikabarkan telah wafat pada dini harinya.

Belum juga pikiranku beranjak dari berita-berita itu, aku
kembali mendapatkan kabar wafatnya Ibunda adik kelasku saat di pesantren
dahulu. Akhir pekan lalu berita duka kembali menghampiriku, kali ini tidak
melalui SMS atau email, tetapi langsung kubaca dari salah satu situs berita.
Salah seorang guruku semasa di pesantren mengalami kecelakaan mobil di
daerah Malang, Jawa Timur, dan meninggal seketika.

Belum juga usai. Tiga hari terakhir ini, aku mendapat tiga email
secara beruntun yang berisikan berita duka bagi tiga sahabatku seangkatan
saat di sekolah dahulu. Dua email mengabarkan bahwa telah meninggal Ayah
dari dua temanku yang tinggal di Jakarta dan Bekasi. Satu lagi mengabarkan
telah wafatnya Ibunda dari temanku yang berdomisili di Bogor.

Aku masih tertegun diam di depan laptop. Beginilah cara Allah
memberikan pelajaran melalui peristiwa kematian. Apa sesungguhnya hikmah
dari semua kejadian ini. Aku yakin selalu ada kebaikan dari semua ini. Tapi,
bagaimana jika kematian itu menimpa salah satu dari anggota keluargaku. Itu
yang aku belum siap. Itu pula yang membuat aku menjadi teringat keluarga di
Indonesia.

Satu persatu aku keluar dari site yang kubuka. Lalu laptop itu
kumatikan. Aku letakkan perlahan di sampingku. Tak kuhiraukan canda tawa
teman-temanku yang riuh menggelegar di atas ranjang yang saling berhadapan
di sudut dekat pintu ruang kamarku. Kurebahkan tubuhku di atas kasur tipis
yang terletak di sudut satunya lagi. Kasur pemberian seniorku itu meski
tipis, tapi sangat nikmat untuk rebahan. Aku bersyukur menerima pemberian
itu, juga sekian pakian yang lainnya. Semua adalah barang-barang warisan
dari para seniorku yang telah menyelesaikan studinya di Islamabad dan kini
kembali ke Indonesia.

Jujur saja, aku tak mampu membeli semua itu. Apalagi selimut dan
jaket untuk musim dingin yang begitu tebal dan harganya pun relatif mahal
bagiku. Sungguh aku bersyukur sekali, tradisi saling mewarisi di kalangan
mahasiswa Indonesia di Islamabad sangat menguntungkan bagiku. Kalau tidak
demikian, bisa jadi aku akan kedinginan menggigil saat musim dingin, karena
aku tak mampu membeli pakaian-pakaian tebal yang dapat melindungi tubuhku
dari hawa dingin yang menggigit. Bagaimana aku akan membelinya, sementara
untuk makan sehari-hari saja aku harus ekstra berhemat. Solusinya berpuasa
Senin dan Kamis, selain sebagai ibadah sunnah yang aku usahakan untuk selalu
mendawamkannya agar menjadi amalan unggulanku, juga bisa membantu mengurangi
uang makan.

Kondisi yang kualami ini juga menimpa keluargaku. Kami memang
termasuk keluarga miskin. Tinggal di pedalaman selatan pulau jawa. Meski
pembangunan di kota-kota besar pulau jawa begitu pesat, tapi desaku dan
mungkin sekian desa lainnya yang masih berada di pulau jawa hampir tak
pernah berubah wajahnya dalam puluhan tahun terakhir. Kecuali perubahan itu
ada pada semakin menuanya usia rumah kami dan seluruh isinya yang kami
punya.

Keberangkatanku ke Pakistan juga atas bantuan biaya dari
senior-seniorku yang telah lebih dahulu berada di Pakistan. Uang transport
dan kuliah, mereka yang menanggung secara bersama. Sebenarnya aku malu dan
merasa tidak nyaman telah membebani mereka, namun takdir ini seakan
menghendaki demikian.

Walau begitu, keberangkatanku untuk kuliah di Pakistan sama
sekali tak membuat gembira kerabat-kerabatku. Bahkan ketika kabar aku akan
berangkat ke Pakistan, hampir semua kerabatku mempertanyakan. Tentang
keamanan di Pakistan, isu teroris, bahkan mereka berani-beraninya mengusik
rasa kebahagiaanku dengan menanyakan kenapa harus kuliah di Pakistan. Di
antara mereka juga mewanti-wantiku, agar tak mengikuti
perkumpulan-perkumpulan yang tidak jelas setibanya aku di Pakistan nanti.
Mereka takut sekembalinya aku dari Pakistan akan menjadi teroris.

Ah, begitu jauhnya daya khayal mereka. Memang isu teroris sedang
gencar-gencarnya, dan media dengan sukses menjejalkan keyakinan itu pada
segenap warga Indonesia, tak terkecuali masyarakat desaku. Padahal, aku
mendapat kepastian langsung dari temanku yang sudah berada di Pakistan,
bahwa kondisi mahasiswa Indonesia di Pakistan aman-aman saja. Tapi begitulah
berita menghipnotis semua pembacanya untuk selalu memercayai apa saja yang
disajikannya.

Hanya keluarga kecilku yang terus menguatkanku untuk tetap
berangkat. Ayah dan ibuku begitu menginginkan aku melanjutkan kuliah. Dan
ini adalah kesempatan yang tak boleh dilewatkan. Sebab kalau harus kuliah di
Indonesia, rata-rata biayanya sangat mahal tak terjangkau, untuk mencari
beasiswa pun sangat sulit. Terkadang jatah beasiswa itupun dirampas oleh
orang-orang yang sebenarnya tergolong masih mampu. Beginilah ketika
kehidupan sosial masyarakat tak ubahnya pergumulan kehidupan alam rimba.
Sehingga semua orang menginginkan keuntungan bagi dirinya masing-masing.
Akhirnya yang menjadi korban adalah rakyat miskin yang semakin terpinggirkan
dari kancah kehidupan ini.

Alam batinku berkecamuk. Aku sangat merindukan Ayah dan Ibu.
Hanya SMS yang mampu kukirimkan secara berkala kepada mereka, sekadar
memberi kabar. Email jelas tak mungkin, sebuah desa terpencil tak
memungkinkan untuk mengakses internet. Telepon bisa saja, tapi aku tak punya
uang untuk menelpon mereka. Surat pun demikian, biaya pengiriman yang cukup
mahal dan lama. Akhirnya, hanya SMS itu yang bisa menjadi sarana untuk
menghubungkanku dengan mereka. Itupun hanya sesekali. Karena terkadang pun
tak bisa terkirim. Dan tentunya tak banyak menghapus rasa rinduku.

Sungguh aku menahan rasa rindu yang teramat sangat. Karena
berkat dukungan keduanya aku bisa kuliah di Pakistan. Itu pula yang membuat
aku masih berat untuk menerima, jika takdir Tuhan harus menghampiri mereka
berdua. Aku sadar usia orang tuaku semakin senja. Tentu ajal itu semakin
dekat. Tapi jangan sekarang..

Ah..

Beberapa hari yang lalu memang begitu menyiksa. Meremuk redamkan
seluruh persendianku dengan tikaman kabar duka. Tanpa sadar air mataku mulai
mengalir perlahan membasahi pipiku. Aku pejamkan mata, menikmati jenak-janak
terakhir bersama Ayah dan Ibu beberapa hari sebelum keberangkatanku ke
Pakistan. Aku masih mengharapkan pertemuan itu kembali terulang. Entah
kapan, sampai saat ini tak ada bayangan kepulanganku ke Indonesia. Aku belum
menganggarkan, bahkan memang tak memiliki biaya, untuk kepulanganku. Aku
hanya berharap, itu bisa terealisasi beberapa tahun lagi. Beberapa tahun
yang tak berbatas. Bisa tiga, lima, tujuh tahun, atau lebih dari itu.

Setidaknya aku masih punya harapan untuk itu. Harapan yang
selalu kudengungkan dalam lantunan do’a-do’aku. Semoga saja Allah berkenan.

Dan hari ini pun tiba. Harapan-harapan itu tinggal kenangan.
Impian itu hampa membumbung tinggi, dan tak akan pernah kugapai. Air mataku
yang kemarin membanjir, menghanyutkan seluruh duka teman-temanku, kini telah
mengering.

Namun, setelah usai duka-duka sebelumnya. Kini.. Pada pagi ini,
kembali aku menerima berita duka. Kali ini bukan kedukaan milik sahabatku.
Bukan juga kedukaan milik yang lainnya. Tapi ini adalah kedukaan miliku
sendiri. Suratan Illahi itu baru saja tiba dari Indonesia melalui pesan
singkat ponselku, mengabarkan bahwa Ibuku telah kembali ke haribaan-Nya.

Seketika air mataku kembali tumpah tak terbendung. Hanya kasur
tipisku yang mampu merasakan getaran jiwaku. Sebagaimana hari kemarin, tapi
kini duka itu milikku. Ya, milikku seorang diri.

Yaa.. Rabb. Begitu cepatnya Kau pisahkan kami. Kini aku tak punya harapan
lagi untuk bertemu Ibunda di dunia. Namun satu yang kupinta kepada-Mu,
Tuhan. Pertemukanlah kami di Surga-Mu kelak. Sebagai pengganti
perpisahan-perpisahan kami di dunia .[]

By : Irfan Azizi

Islamabad, 11 Mei 2009

11 52009v 2007 at 7:02 pm 2 comments

Older Posts


Welcome

Selamat Datang di Blog FLP wilayah Pakistan Terimakasih telah mengunjungi blog kami

kalender

August 2016
M T W T F S S
« Jan    
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Tulisan terbaru

Tulisan Terpopuler

Anda pengunjung ke

  • 10,878

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.