Suratan Illahi

11 52009v 2007 at 7:02 pm 2 comments

Aku termenung sejenak di depan laptop. Halaman isi gmail masih
terpampang dalam layarnya, menampilkan sebuah email yang masuk sore ini.
Tanganku masih memegang mouse, namun tanpa gerak sedikit pun. Mataku menatap
layar laptop yang kupinjam dari seorang teman. Aku biarkan layar itu dalam
kevakumannya. Tanpa perubahan tampilan. Jantungku seketika berdetak kuat.
Perasaan ngeri, takut, dan pasrah menyelimuti jiwaku.

Beberapa menit berlalu, mataku tak kunjung beranjak dari layar
segi empat itu. Tak bosan aku menatapnya, walau tetap saja tampilannya tak
berubah. Ya, karena sesungguhnya aku tak benar-benar menatap setiap inci
layar itu. Pandanganku jauh menembus layar itu. Menerawang nusantara yang
kini kutinggalkan. Meneliti satu persatu wajah sahabat-sahabatku yang
dirundung duka. Keluarga, kerabat, saudara, tak terwelat pula kedua orang
tuaku.

Berita duka itu datang dalam rentang waktu yang berdekatan.
Bahkan tiga hari terakhir datang secara beruntun. Tiga berita duka dalam
tiga hari. Aku sadar, setiap detiknya pun selalu ada kabar duka dalam dunia
kehidupan ini. Tapi kabar duka yang kuterima ini dialami oleh orang-orang
dekatku. Kalaupun bukan orang dekat, paling tidak mereka aku kenal, atau
setidaknya kami pernah menjalani kehidupan bersama dalam tautan
persahabatan.

Dua pekan yang lalu aku dan mahasiswa di Islamabad baru saja
menunaikan shalat Ghaib atas meninggalnya Ibunda dari dua rekan kami, Reza
dan Ghani. Tak lama dua hari kemudian aku mendapat SMS dari Ketua Persatuan
Pelajar dan Mahasiswa Indonesia (PPMI), mengabarkan bahwa Ayah dari saudari
kami Dinda telah berpulang ke rahmatullah. Esoknya, Kyai dari salah seorang
temanku, dikabarkan telah wafat pada dini harinya.

Belum juga pikiranku beranjak dari berita-berita itu, aku
kembali mendapatkan kabar wafatnya Ibunda adik kelasku saat di pesantren
dahulu. Akhir pekan lalu berita duka kembali menghampiriku, kali ini tidak
melalui SMS atau email, tetapi langsung kubaca dari salah satu situs berita.
Salah seorang guruku semasa di pesantren mengalami kecelakaan mobil di
daerah Malang, Jawa Timur, dan meninggal seketika.

Belum juga usai. Tiga hari terakhir ini, aku mendapat tiga email
secara beruntun yang berisikan berita duka bagi tiga sahabatku seangkatan
saat di sekolah dahulu. Dua email mengabarkan bahwa telah meninggal Ayah
dari dua temanku yang tinggal di Jakarta dan Bekasi. Satu lagi mengabarkan
telah wafatnya Ibunda dari temanku yang berdomisili di Bogor.

Aku masih tertegun diam di depan laptop. Beginilah cara Allah
memberikan pelajaran melalui peristiwa kematian. Apa sesungguhnya hikmah
dari semua kejadian ini. Aku yakin selalu ada kebaikan dari semua ini. Tapi,
bagaimana jika kematian itu menimpa salah satu dari anggota keluargaku. Itu
yang aku belum siap. Itu pula yang membuat aku menjadi teringat keluarga di
Indonesia.

Satu persatu aku keluar dari site yang kubuka. Lalu laptop itu
kumatikan. Aku letakkan perlahan di sampingku. Tak kuhiraukan canda tawa
teman-temanku yang riuh menggelegar di atas ranjang yang saling berhadapan
di sudut dekat pintu ruang kamarku. Kurebahkan tubuhku di atas kasur tipis
yang terletak di sudut satunya lagi. Kasur pemberian seniorku itu meski
tipis, tapi sangat nikmat untuk rebahan. Aku bersyukur menerima pemberian
itu, juga sekian pakian yang lainnya. Semua adalah barang-barang warisan
dari para seniorku yang telah menyelesaikan studinya di Islamabad dan kini
kembali ke Indonesia.

Jujur saja, aku tak mampu membeli semua itu. Apalagi selimut dan
jaket untuk musim dingin yang begitu tebal dan harganya pun relatif mahal
bagiku. Sungguh aku bersyukur sekali, tradisi saling mewarisi di kalangan
mahasiswa Indonesia di Islamabad sangat menguntungkan bagiku. Kalau tidak
demikian, bisa jadi aku akan kedinginan menggigil saat musim dingin, karena
aku tak mampu membeli pakaian-pakaian tebal yang dapat melindungi tubuhku
dari hawa dingin yang menggigit. Bagaimana aku akan membelinya, sementara
untuk makan sehari-hari saja aku harus ekstra berhemat. Solusinya berpuasa
Senin dan Kamis, selain sebagai ibadah sunnah yang aku usahakan untuk selalu
mendawamkannya agar menjadi amalan unggulanku, juga bisa membantu mengurangi
uang makan.

Kondisi yang kualami ini juga menimpa keluargaku. Kami memang
termasuk keluarga miskin. Tinggal di pedalaman selatan pulau jawa. Meski
pembangunan di kota-kota besar pulau jawa begitu pesat, tapi desaku dan
mungkin sekian desa lainnya yang masih berada di pulau jawa hampir tak
pernah berubah wajahnya dalam puluhan tahun terakhir. Kecuali perubahan itu
ada pada semakin menuanya usia rumah kami dan seluruh isinya yang kami
punya.

Keberangkatanku ke Pakistan juga atas bantuan biaya dari
senior-seniorku yang telah lebih dahulu berada di Pakistan. Uang transport
dan kuliah, mereka yang menanggung secara bersama. Sebenarnya aku malu dan
merasa tidak nyaman telah membebani mereka, namun takdir ini seakan
menghendaki demikian.

Walau begitu, keberangkatanku untuk kuliah di Pakistan sama
sekali tak membuat gembira kerabat-kerabatku. Bahkan ketika kabar aku akan
berangkat ke Pakistan, hampir semua kerabatku mempertanyakan. Tentang
keamanan di Pakistan, isu teroris, bahkan mereka berani-beraninya mengusik
rasa kebahagiaanku dengan menanyakan kenapa harus kuliah di Pakistan. Di
antara mereka juga mewanti-wantiku, agar tak mengikuti
perkumpulan-perkumpulan yang tidak jelas setibanya aku di Pakistan nanti.
Mereka takut sekembalinya aku dari Pakistan akan menjadi teroris.

Ah, begitu jauhnya daya khayal mereka. Memang isu teroris sedang
gencar-gencarnya, dan media dengan sukses menjejalkan keyakinan itu pada
segenap warga Indonesia, tak terkecuali masyarakat desaku. Padahal, aku
mendapat kepastian langsung dari temanku yang sudah berada di Pakistan,
bahwa kondisi mahasiswa Indonesia di Pakistan aman-aman saja. Tapi begitulah
berita menghipnotis semua pembacanya untuk selalu memercayai apa saja yang
disajikannya.

Hanya keluarga kecilku yang terus menguatkanku untuk tetap
berangkat. Ayah dan ibuku begitu menginginkan aku melanjutkan kuliah. Dan
ini adalah kesempatan yang tak boleh dilewatkan. Sebab kalau harus kuliah di
Indonesia, rata-rata biayanya sangat mahal tak terjangkau, untuk mencari
beasiswa pun sangat sulit. Terkadang jatah beasiswa itupun dirampas oleh
orang-orang yang sebenarnya tergolong masih mampu. Beginilah ketika
kehidupan sosial masyarakat tak ubahnya pergumulan kehidupan alam rimba.
Sehingga semua orang menginginkan keuntungan bagi dirinya masing-masing.
Akhirnya yang menjadi korban adalah rakyat miskin yang semakin terpinggirkan
dari kancah kehidupan ini.

Alam batinku berkecamuk. Aku sangat merindukan Ayah dan Ibu.
Hanya SMS yang mampu kukirimkan secara berkala kepada mereka, sekadar
memberi kabar. Email jelas tak mungkin, sebuah desa terpencil tak
memungkinkan untuk mengakses internet. Telepon bisa saja, tapi aku tak punya
uang untuk menelpon mereka. Surat pun demikian, biaya pengiriman yang cukup
mahal dan lama. Akhirnya, hanya SMS itu yang bisa menjadi sarana untuk
menghubungkanku dengan mereka. Itupun hanya sesekali. Karena terkadang pun
tak bisa terkirim. Dan tentunya tak banyak menghapus rasa rinduku.

Sungguh aku menahan rasa rindu yang teramat sangat. Karena
berkat dukungan keduanya aku bisa kuliah di Pakistan. Itu pula yang membuat
aku masih berat untuk menerima, jika takdir Tuhan harus menghampiri mereka
berdua. Aku sadar usia orang tuaku semakin senja. Tentu ajal itu semakin
dekat. Tapi jangan sekarang..

Ah..

Beberapa hari yang lalu memang begitu menyiksa. Meremuk redamkan
seluruh persendianku dengan tikaman kabar duka. Tanpa sadar air mataku mulai
mengalir perlahan membasahi pipiku. Aku pejamkan mata, menikmati jenak-janak
terakhir bersama Ayah dan Ibu beberapa hari sebelum keberangkatanku ke
Pakistan. Aku masih mengharapkan pertemuan itu kembali terulang. Entah
kapan, sampai saat ini tak ada bayangan kepulanganku ke Indonesia. Aku belum
menganggarkan, bahkan memang tak memiliki biaya, untuk kepulanganku. Aku
hanya berharap, itu bisa terealisasi beberapa tahun lagi. Beberapa tahun
yang tak berbatas. Bisa tiga, lima, tujuh tahun, atau lebih dari itu.

Setidaknya aku masih punya harapan untuk itu. Harapan yang
selalu kudengungkan dalam lantunan do’a-do’aku. Semoga saja Allah berkenan.

Dan hari ini pun tiba. Harapan-harapan itu tinggal kenangan.
Impian itu hampa membumbung tinggi, dan tak akan pernah kugapai. Air mataku
yang kemarin membanjir, menghanyutkan seluruh duka teman-temanku, kini telah
mengering.

Namun, setelah usai duka-duka sebelumnya. Kini.. Pada pagi ini,
kembali aku menerima berita duka. Kali ini bukan kedukaan milik sahabatku.
Bukan juga kedukaan milik yang lainnya. Tapi ini adalah kedukaan miliku
sendiri. Suratan Illahi itu baru saja tiba dari Indonesia melalui pesan
singkat ponselku, mengabarkan bahwa Ibuku telah kembali ke haribaan-Nya.

Seketika air mataku kembali tumpah tak terbendung. Hanya kasur
tipisku yang mampu merasakan getaran jiwaku. Sebagaimana hari kemarin, tapi
kini duka itu milikku. Ya, milikku seorang diri.

Yaa.. Rabb. Begitu cepatnya Kau pisahkan kami. Kini aku tak punya harapan
lagi untuk bertemu Ibunda di dunia. Namun satu yang kupinta kepada-Mu,
Tuhan. Pertemukanlah kami di Surga-Mu kelak. Sebagai pengganti
perpisahan-perpisahan kami di dunia .[]

By : Irfan Azizi

Islamabad, 11 Mei 2009

Entry filed under: Cerpen, Renungan. Tags: .

Bubbye…, IIUI…!!! Ku Tunggu di Regal Chowk

2 Comments Add your own

  • 1. Oshee  |  11 52009v 2007 at 10:20 pm

    KSdihan yg beruntun trjadi bukan hal yg tak mgkn terhindarkan. Mga diri qta tetap kuat menghadapi ujian di dunia ini. Btw…Kpn ya aq buat cerpen neh?He2..Doain ya tman2. Mga cpat jd neh karyaku :)

    Reply
    • 2. vie  |  11 62009v 2007 at 1:00 pm

      ayo dong k..smangat..
      ditunggu loh cerpennya…maju truz bu ketum…
      tp ati2 nabrak :P :P hehehe

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Welcome

Selamat Datang di Blog FLP wilayah Pakistan Terimakasih telah mengunjungi blog kami

kalender

January 2010
M T W T F S S
« Apr    
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Tulisan terbaru

rubrik tulisan

Tulisan Terpopuler

Anda pengunjung ke

  • 4,216

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.