Pendar Cinta-Mu Indah di Mataku

11 52009v 2007 at 7:51 pm Leave a comment

Gempa itu gemuruh dalam telingaku. Berdegum. Membelalakkan mataku. Membuka rahang mulutku. Tapi tak ada suara yang keluar. Hanya desis nafas yang abstrak. Heran, mungkin. Bukannya baru beberapa saat lalu bumi tempatku berpijak digoncang gempa. Retak tanahku membuat langkahku kini semakin awas.

Tapi di kejauhan ada senyum terkembang. Senyum para korban. Ah, mungkin itu hanya lamunku. Mana mungkin sang korban tersenyum dalam kenestapaan dan porak-porandanya hidup mereka. Tapi ini benar, mungkin hanya aku yang tahu.

Kalau memang benar senyum itu terkembang dari wajah sebagian korban itu, mungkin karena ia merasakan bahagia. Yah, mungkin saja mereka memandang hancur berantakannya hidup mereka oleh gempa itu adalah jalan singkat untuk menata kembali hidup mereka. Menjadi bangunan hidup yang lebih baik dan indah tentunya.

Tapi ternyata senyum itu tak hanya milik mereka, ada wajah lain yang juga melukis senyumnya. Senyum dari para manusia yang jauh dari lokasi bencana. Mereka memang bukan korban, jadi wajar. Aku rasa tidak juga? Mereka bukan sedang bersenang-senang di atas penderitaan para korban itu. Aku rasa mereka hanya tak bisa menahan kegembiraan hatinya. Gembira. Ya, rasa gembira itu memang sebuah kegembiraan yang nyata. Mereka hanya ingin sejenak memadu senyum bahagia, karena kemungkaran itu telah turut lenyap terkubur reruntuhan bangunan dan tebing pegunungan negeri ini.

Mereka memang tak bisa menyembunyikan kegembiraan itu. Bukan karena ingin melukai hati para korban. Tapi karena memang himpitan kemungkaran itu telah lama membuat nyilu jiwa mereka. Menyisakan sayatan luka dalam ruhani mereka. Membuat lebam setiap persendian mereka. Dan mungkin, inilah saatnya mereka tak merasakannya kembali. Agar jiwa mereka bebas melukis sketsa-sketsa jalan kebahagiaannya. Jadi, sejenak tersenyum melepas segala penyakit itu boleh kan? (Maaf, sekali lagi senyum itu bukan bermaksud untuk bersenang-senang di atas penderitaan saudara-saudaranya yang menjadi korban.)

Tapi ada makna lain yang kurasa dari pendar cinta-Nya. Oya, boleh kan aku menyebut gempa ini pendar cinta-Nya. Kalau kita tak merasa, mungkin hanya aku. Tapi memang aku merasakannya. Merasakan pendar cinta-Nya yang indah di mataku. Maka, tak heran jika kutatapnya lekat. Dan biarkan aku berbisik kepada-Nya tentang ini. Cukup berbisik kurasa, karena Tuhanku Maha Mendengar. Walaupun begitu, kau pun boleh mendengar. Inilah bisikku pada-Nya.

(Dalam kesunyian batin aku menatap pendar-pendar cinta-Nya sambil berujar akan segala makna yang kutangkap.)

…………………………

Kutatap pendar cinta-Mu. Cemerlang!!

Kini benakku mulai berpikir brilian. Hanya cita kebaikan yang mendesak-desak kuat. Menelisik dan lesat dalam lorong-lorong lamunku. Heran. Sejak sekian masa, kini nurani yang menjadi fitrahku itu kembali lagi. Saat jiwa ini bertemu dengan hentakkan taqdir-Mu.

Adakah gempa yang Kau cipta telah menggemuruhkan segala bisik kesadaran. Saat segala keangkuhan duniawi runtuh di tangan-Mu. Merayap segala retak dalam jiwaku yang rapuh. Berderit sakit menyisir segala noda di hati. Bahkan borokku kupaksa agar segera tanggal dari jiwaku. Agar busukku berubah aroma wewangian surga-Mu.

Kutatap pendar cinta-Mu. Dahsyat!!

Tiba-tiba hatiku tergetar. Mata ini pun harus mengerjap seketika, setelah selama ini membelalak dalam tatap kekaguman pada fatamorgana dunia. Sedikit silau memang. Ternyata masih ada keagungan yang lebih dahsyat milik Sang Pemilik alam. Dan aku baru tersadar kembali.

Lalu, ke mana terlabuh segala sesajen yang kualirkan diperairan negeriku. Saat keimanan bukan lagi pada pengesaan-Mu. Tetapi melebihi pada satu kekuatan alam yang kutakuti secara buta.           Bukan-Mu tentunya, tetapi pesaing-pesaing-Mu dari sesembahan lain -tak tahu berasal dari mana- yang kumunculkan dalam keseharian hidupku.

Kutatap pendar cinta-Mu. Kagum!!

Sungguh jitu cara-Mu. Segala keindahan dan kelincahan gaya ajar-Mu kepada kami. Menyentuh yang tak terlalu menyentuh. Mengelus yang tak terlalu mengelus. Bahkan, membentak-Mu tak terlalu membentak.

Tapi sekali lagi kini kagumku pada-Mu semakin menjadi-jadi. Bagaimana mungkin dengan sedikit sentil Kau mengubah arah labuhku. Bagaimana mungkin dengan sedikit kibas Kau membuka jalan solusi bagi keselamatanku jauh untuk masa depan. Masa depan akhirat penuh keagungan dan keindahan cipta karya-Mu.

Kutatap pendar cinta-Mu. Sejuk!!

Ketika air rahmat-Mu dalam aneka ragamnya mampu menghapus gundah gulana jiwa. Tangan-tangan nafsu angkara kami mulai terlucuti dari kemesraan gilanya. Memegang kembali warisan Rasul-Mu, Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Agung syair abadi-Mu dalam rangkaian firman. Dan semakin tuntas kepuasan batinku saat tergenapi oleh jejak kata dan gerak sunnah Rasul-Mu. Beginikah rasa hidayah itu? Hidayah setelah hentakan keras adzab-Mu. Entahlah, aku sendiri juga tak yakin. Apakah gempa ini adalah adzab atau ujian dari-Mu. Pastinya, dibalik semua itu kutemui kesejukkan iman kepada-Mu.

Kutatap pendar cinta-Mu. Hangat!!

Ternyata dinginnya kucuran hidayah-Mu tak sampai membuatku menggigil. Ada balutan iman yang membuat jiwaku kini perkasa. Kokoh menghadap angkara. Tegap pada setiap ketidakadilan dan kedzaliman. Bahkan suara lantangku kini keluar menghadang setiap kemunkaran tanpa getar. Seakan pita suaraku menjadi jernih karena aliran hidayah-Mu. Tapi tak membuatnya keriput, bahkan bergetar dalam gigilnya.

Jari-jemariku kini pun mulai kuat. Tanganku, pergelangan, dan sekujur tubuhku. Semua serempak bersinergi pada kerja kebaikan. Seakan asupan wedang jahe, aliran darah di tubuhku kini normal kembali. Organ-organ kini bisa berfungsi semula sesuai titah Tuhannya. Tak ada lagi mati rasa, kakunya kaki atau tangan, keseleo lidah, dan aneka macam penyakit tak berguna yang hanya memakan masa usiaku.

Kutatap pendar cinta-Mu. Indah!!

Memang indah, kali ini aku tersenyum. Mengapa tak sedari dulu aku metatap cinta-Mu. Padahal kutahu cinta-Mu selalu berpendar di setiap sudut hidupku. Ah, memang saat itu aku masih berada dalam kubang kegelapan. Wajar mataku masih terlalu silau untuk menatap pendar cinta-Mu. Jari jemariku juga masih kaku kedinginan karena mendekam dalam gelap, sehingga sulit untuk meraba cinta-Mu. Apalagi mulutku, setelah lama berada dalam kubangan itu selalu merasa mual dan ingin muntah, sehingga tak kuasa untuk berucap bahwa aku mencari cinta-Mu.

Tapi kini indah, itu yang kutatap. Paling tidak dari pendar cinta-Mu. Retak yang kau tinggalkan di tanah tempatku berpijak, kini membuatku lebih berhati-hati dalam berjalan meniti hidupku. Lebam yang kau torehkan pada sekujur tubuhku, kini membuatku lebih berhati-hati untuk bersentuhan dengan apa yang ada di sekitarku. Bibirku tak boleh terkoyak lagi, mataku tak boleh memerah lagi, dan segala organ lainnya kini harus lebih kujaga.

Agar indah pendar cinta-Mu yang kini kutangkap dengan mataku bisa tetap abadi dalam tatapku. Dan pikirku cemerlang, citaku dahsyat, hatiku sejuk, dan langkahku hangat, karena memandang pendar cinta-Mu yang indah di mataku.

(Irfan Azizi, Islamabad 11 Oktober 2009)

Saat kutatap semua peristiwa hidup ini ternyata cinta-Nya yang berpendaran dalam mataku.

Entry filed under: essay, Renungan. Tags: .

di Balik Agendanya Maafkan Aku Sepi!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Welcome

Selamat Datang di Blog FLP wilayah Pakistan Terimakasih telah mengunjungi blog kami

kalender

January 2010
M T W T F S S
« Apr    
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Tulisan terbaru

rubrik tulisan

Anda pengunjung ke

  • 4,212

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.