di Balik Agendanya
11 52009v 2007 at 7:46 pm vhe Leave a comment
Sudah sebulan berlalu, tapi aku belum bisa melupakan dia, mungkin 5 tahun kenangan pahit dan manis yang terukir dan sudah mengakar dalam hatiku, setiap kali aku masuk kekamar kos ku, mataku langsung menyapu pojok ruangan itu, seakan dia menceritakan kenangan-kenangan indah yang kulewatkan bersamanya, kasur biru mengingatkan tubuh itu yang terlelap dibawa mimpi saat aku pulang terlambat, senyum manis dengan secangkir lemon tea menyambutku kalau aku pulang cepat, disana juga aku melihat tubuh itu mendengkur dan kadang tertawa riang, kadang juga kasur itu menjadi saksi bisu kalau aku lagi usil mengganggu dia tidur. Sekali lagi mataku jatuh pada sebuah rak buku tua, yang ditemani sebuah cermin berukuran besar, ya… cukup besar untuk kupakai buat menari-nari ketika kupakai baju. Rak itu penuh dengan buku, kadang-kadang aku juga sering melihat dia membolak-balik isi rak itu sampai jam 2 malam, rak buku yang menjadi saksi bisu ketika dia mengatakan,
“Men, kalau aku nggak ada lagi kamu bakal dapat warisan buku banyak, enak kan?”. Saat itu pun aku menjawab,
” Ooo…pasti choy…buku gratis!!”, kataku sambil tersenyum. namun dia membalas,
” Hati-hati lho..ntar waktu ente buka-buka buku, kepalaku nongol..hi..!!”.
katanya sambil tersenyum, masih terlukis jelas senyuman itu dikepalaku,
“Kepala? sapa takut? aku tutup aja bukunya biar kepala nte benjol!!he…” balasku seenaknya. Cermin itu juga mengingatkanku pada hobinya yang suka mendadani rambut, mungkin aku bisa menghitung dalam 10 menit 3 kali gaya rambutnya berubah, setiap kali dia disana,dia mengatakan padaku,
“Selain buku kamu juga bakal dapat warisan cermin men…tapi jangan sering-sering bercermin disini ya…..”. Aku tidak pernah menganggap semua itu serius, aku Cuma mengira dia bercanda, aku tahu hobinya mengarang cerita, bercanda, satu jam bicara sama dia, mungkin Cuma dua menit yang serius, tapi…Aku nggak pernah mengira, ajal memang nggak pandang bulu, banyak orang tua berumur 80 tahun masih sehat, mungkin inilah garis kehidupannya, 22 tahun telah tertulis baginya untuk menghirup udara, menikmati indahnya dunia, merasakan pahitnya kehidupan, tapi aku yakin, dia pindah ketempat yang jauh lebih baik dari kamar kos ini!!
Suatu hari dia pernah berkata “men, kebanyakan orang tua menyegerakan tidur malam dan bergegas untuk bangun di pagi harinya mungkin karena mereka tidak ingin kehilangan waktu sedikitpun di akhir masa mereka yang sudah dekat ajal. Sedangkan sebaliknya, para pemuda rela begadang dan suka bangkong mungkin karena mereka merasa waktu mereka masih panjang dan lama. Lucu ya.. Padahal mereka tak pernah tahu kapan ajal menjemput” ungkapnya dengan penuh senyum. Aku tak pernah menanggapi keseriusan dari apa yang dikatakannya, kuhanya anggap itu angin lalu saja. Tapi anggapanku malah berbalik menjadi sebuah kenyataan.
Kutatapi terus rak buku itu, rasanya mataku tidak ingin berpaling, dan tanpa terasa pipiku basah, air mataku mengalir. Sejak dia pergi, rak itu tidak pernah kusentuh. Tepatnya Jum’at malam, berita duka yang sampai di telingaku itu terus terngiang. Sejak gempa Sumbar berskala 7,6 skala richter yang memporak porandakan semuanya, meluluh lantahkan bangunan rata dengan tanah, dan tentu memakan ribuan korban itu betul-betul menghantuiku diselimuti rasa khawatir, galau, dan risau, terlebih ketika tak bisa kuhubungi nomornya sejak saat itu. Hingga akhirnya kuterima kabar dari milis almamaterku yang mengabarkan bahwa dia sudah tiada.
Entah kenapa, malam ini ingin rasanya aku membuka rak itu, ingin rasanya kubolak-balik lembaran putih itu, ditempat jari-jarinya pernah menari-menari sambil ditemani lagu Cinta Terlarang-nya The Virgin, tapi I’m yours milik milik Jason mraz paling dia suka. Kudekati rak itu perlahan, aku duduk bersila di depan rak itu, menatap setiap buku yang seakan sedih ditinggal tuannya, hati kecilku berkata,
” Jangan kau bersedih, anggap saja aku Tuanmu yang baru, kau mencintai tuanmu seperti kamu mencintainya, aku akan merawatmu, aku tahu kamu sedih, tapi, apakah kamu tidak merasakan perasaanku? kita sama-sama ditinggal orang yang kita cintai! kamu ikut menemani dia di kamar ini, di kelas, di kampus, ditaman waktu malam minggu,, bersama senyuman dedaunan dan nyanyian burung-burung, tapi kamu tahu? Aku juga ada disana, bahkan aku bersama dia disaat kamu tidak ada, jadi tolong jangan tambah kesedihanku dengan tatapan sayumu…”
Tatapanku berhenti di buku hitam, bertuliskan BLITZA REMIGION 2005, buku agenda itu seakan tersenyum padaku, seakan berkata padaku,” Men..ambil aku..bukalah lembaran-lembaranku…jagalah aku…!”
Tanganku pun meraih agenda itu, agenda Alumni Pondok Modern Gontor 2005, dan aku sendiri juga memiliki agenda itu. Kutatap Agenda hitam yang sekarang sudah berpindah di tanganku, kutatapi terus…bibirku bergoyang, setetes air mata jatuh di atas sampul agenda itu, pas diatas huruf B, kuhapus tetesan itu perlahan, dalam hatiku aku berkata,
” Bro, maafkan aku, aku tahu ini agenda pribadi kamu, mungkin kamu tidak pernah mengijinkan seorang pun membukanya, tapi malam ini aku memberanikan diri membukanya, maafkan aku Bro, tapi aku merasa kamu seperti saudaraku, kamu sangat percaya padaku, sehingga semua masalah kamu ceritakan padaku, tapi aku tidak pernah punya kepercayaan padamu sejauh itu, maafkan aku Bro…”.
Sampul hitam Agenda kubalik perlahan, lembaran pertama berisi Biodata dan foto, fotonya tersenyum padaku setelah satu bulan kami berpisah, senyum yang sering kulihat didapur, mengaduk sambal, kadang juga senyum itu mengejekku ketika aku terlambat bangun subuh, tapi aku ingat senyum itu selalu ada waktu sedih dan senang. Setelah lembaran pertama terbuka, rasanya tak ingin aku membuka halaman selanjutnya, aku tidak kuat! Tapi hati ku menyuruhku meneruskan ke halaman selanjutnya, tanpa terasa air mataku menetes lebih deras. Lembaran selanjutnya kubuka, namun tidak ada yang kuanggap penting, mungkin hal itu sudah kuketahui semua lewat cerita-ceritanya, lembar demi lembar terlewati begitu saja, tanpa ada satu lembaran pun yang menarik perhatianku, lembaran terus lewat satu demi satu, mungkin hampir habis, tanpa sengaja halaman 42 menghentikan jari-jari ku, mataku tertuju pada lembaran itu, tulisan yang tertanggal 13 september sebelum sebelum dia pamit pulang ke Padang.
Malang,13 September 2009, 03.00 WS
“Aku teringat doa almarhum Ust. Ahmad Sahal ketika pondok dapat musibah…
“Ya Allah berilah aku cobaan seberat-beratnya, dan berikan aku kekuatan untuk menjalaninya”.
Kiranya pantas sekali bagiku mengucapkan doa itu, malam ini kan mungkin saja Malaikat sedang mengumpulkan buku amalanku untuk dilaporkan kepada Sang Kholiq. Aku tak pernah tau kapan dan di mana Dia akan menjemputku, bisa saja malam ini.
Ya Allah…Aku nggak punya amalan yang bisa kugunakan untuk mendekatkan diriku pada-Mu, mungkin setiap detik nafasku tidak untuk mengingat-Mu, tidak untuk mensyukuri-Mu, Aku menerima takdir-Mu untuk pergi jauh dari keluarga, padahal Engkau tahu keadaan keluargaku yang serba kekurangan dan aku hanya bisa bersenang-senang di sini,meski aku lalai tapi aku menerima semua keputusan-Mu, aku pergi mencari keridhaan-Mu, mencari Ilmu, ajarkan aku cara bersyukur dengan mengamalkan apa yang aku miliki dari anugerah-Mu, jangan jadikan itu semua beban dosaku disaat aku menghadap-Mu, ajarkan aku mengamalkan ilmu-Mu!
Air mataku mengalir tambah deras, tanpa kusadari jenggotku yang tipis telah basah dengan air mata, rasanya tak sanggup kubalikkan lembaran selanjutnya, berat ya Allah…apa yang terjadi pada temanku ya Allah…kenapa aku tidak tahu…..kupaksakan membuka lembaran selanjutnya.
Malang, 14 September, 03.00 WS
“Dunia serasa tersenyum hari ini kepadaku, entah kenapa. Yang jelas hari ini aku harus pulang ke Padang. Itu anjuran sobat baikku si Armen yang tadi bilang kalo aku sedang dilanda rindu berat pada seseorang aku harus segera datangi dia atau paling tidak telepon, begitu katanya. Karena kita tidak pernah tau kapan terakhir kali kita melihatnya ato hanya sekedar mendengar suaranya, Izrail tak pernah mau terima tawar-menawar masalah cabut nyawa. Kupikir-pikir betul juga. Dah dua tahun aku belum pulang ke Kampung halamanku, aku rindu kedua ortuku. Maka aku putuskan besok pagi aku pulang ke padang. Tau gak kamu diary? Armen telah ngajarin banyak hal kepadakau untuk bertindak dan berbuat. Dia sahabat terbaikku dengan advicenya yang khas bisa meluluhkanku. Ah..anyway aku musti balik ke Padang dan berkumpul lagi bersama keluargaku, senangnya. Sampai jumpa ya diary…entah kapan kubisa toreh penaku lagi sama kamu. Tenang aja…masih ada Armen yang siap temanin kamu kok..he..he…
Wsalm.
Astagfirullah…aku merasa aku telah dzholim pada diriku sendiri,mengapa sedikitpun aku tak bisa merelakan sepeser duit untuk sekedar beli pulsa dan menyapanya tatkala aku rindu padanya, dan akhirnya benar…aku tak bisa menatapnya lagi kini.
Seorang sahabat kadang jarang kita hargai, ketika udah nggak ada lagi baru merasa kehilangan, bukankah dia saudara kita dengan Ibu yang tidak sama? Bukankah persahabatan adalah ikatan yang tak kenal ruang dan waktu? Ketika kamu punya pacar, pasti setiap hari pikiran kamu dihiasi rasa cemburu? Kalo udah putus…yakinlah nggak bakal ada peace lagi disana! Tapi sahabat….lebih dari itu…kebaikan sahabat terlalu indah untuk diungkapkan dengan kata-kata…terlalu banyak untuk ditoreskan lewat pena…
Bro….doaku selalu menyertaimu…aku janji akan selalu mendoakan mu…aku janji…..aku minta ijin ya kalau aku punya anak laki-laki kuberikan namanya seperti nama kamu? Syahid Khotami…yang berkahir dengan kesyahidan.
By : Firman


Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed