Bubbye…, IIUI…!!!

11 52009v 2007 at 6:53 pm Leave a comment

“Narai…Takbir. ..” teriak seorang demonstran yang berada di kampus International Islamic University, Islamabad (IIUI) saat aku berjalan melewati deretan kelas fakultas Islamic Studies (Ushuluddin) . Yang selanjutnya diikuti teriakan “Allahu Akbar….” oleh 150an pengikut demonstrasi lainnya, yang ucapan itu terulang berkali-kali.

Pagi yang menurutku ‘suram’ (walaupun mentari tetap menyapa dunia dan seluruh makhluk yang ada diatasnya dengan senyuman yang cerah sumringah) karena diundurnya ujian akhir spring semester pada hari itu disebabkan adanya demonstrasi ‘besar-besaran’ di fakultas Ushuluddin. Padahal, semalaman aku sudah belajar dan mempersiapkan materi untuk ujian, sampe minum kopi 3 gelas. Tetapi, ternyata ujian social sciences pada pagi itu diundur. Setelah aku menanyakan ke kantor administrasi fakultas dan ketemu dengan pengajarnya, ustadz Zaenal ‘Abidin. Betapa dongkolnya hatiku, sambil menggerutu dengan suara pelan, “ uh…, kesel banget gw, udah semalaman gag tidur untuk menghafal pelajaran ini, eh malah ujiannya diundur.”

“SKS seyh…, makanya, kalo belajar jangan system kebut semalam (SKS) Ron… Kebiasaan buruk kok masih dilakuin…” suara itu mengejutkanku, ternyata dibelakangku ada mahasiswa pasca sarjana yang sudah hampir selesai menulis thesis, yaitu bang anton.

“ Heeeee, iya bang… Penginnya seyh menyisihkan beberapa jam tuk belajar setiap harinya, tapi…., ya gitu deyh… Gimana kabar thesisnya bang, udah selesai? Wah siap-siap tasyakurannya neyh” kataku sambil meringis karena ejekan tadi dan aku coba untuk mengalihkan topik pembicaraan.

“Alhamdulillah, baek Ron, doain aja semoga cepet selesai ujian dan cepet-cepet ninggalin universitas ini. Udah bosen tinggal disini…, he he he. Lagian bentar lagi paling fakultas ini juga disisihkan. Makanya belajar yang rajin, biar cepet nyelesain kuliah kamu. And jangan hanya ‘SKS’ ja. Oke Ron, pergi dulu ya, ni lagi ada urusan ama musyrif. Kalau masalah tasyakurannya, ntarlah habis kelar semuanya baru kita adakan…. kamu siap-siap jadi panitianya ya… Assalamu’alaiku…m !!!”

“Siippp, atur aja bang….” Aku pun menjawab salamnya, lalu kami salaman dan  berpisah di depan ruang dekan Ushuluddin.

Lalu aku naik ke lantai dua melalui tangga disamping ruangan Dr. Dzofarulloh Beik, pakar tarekh yang merupakan dosen senior di IIUI. Tanpa kusadari, ternyata rombongan demonstran yang masih ‘mencari kebenaran’ dari fakultas, atau ‘rukhshah’ lebih tepatnya, berkumpul di atas tangga yang kunaiki.

Kya maslah yar…?” tanyaku kepada salah satu teman sekelasku yang merupakan orang pribumi alias Pakistani yang biasa kami panggil Javed di kelas.

“Dengerin aja tuch kata si orator…, yang penting universitas ini udah mulai mau disekulerkan dan dijauhkan dari nilai-nilai Islam, salah satunya fakultas kita -Ushuluddin- kemungkinan besar akan digabungkan dengan fakultas arabic dan peradaban yang akhirnya fakultas Islamic Studies atau Ushuluddin di IIUI akan hilang di telan masa” katanya serius dengan muka yang masam dan geram, seakan-akan api sudah nyampe di ubun2nya.

“Kata si orator…, provokator kaleee…. ” gumamku dalam hati.

Di-sekuler-kan, bukannya sekuler menurut Harvey Cox pada tahun 1960 an, seorang teolog dan sosiolog jebolan Harvard University itu, berasal dari bahasa latin saeculum yang berarti ‘zaman sekarang’ (the present age). Lalu, mengikuti lika-liku jalannya waktu, melalui goresan, gesekan dan benturan filsafat Helenistik, berlanjut sampai masa pencerahan (enlightment) dan revolusi prancis makna itupun mengikuti alurnya dan berubah menjadi pemisahan kekuasaan antara Paus dan Kaisar alias pindahnya tanggung jawab tertentu dari gereja kepada kekuasaan politik. Dan lebih umum lagi pemisahan urusan agama dengan urusan duniawi. Terus, apa kira-kira maksud sekuler menurut dia ya? Di beberapa sticker yang tertempel di kelas-kelas fakultas Ushuluddin juga tertulis “ NO SECULARIZATION OF ISLAMIC UNIVERSITY” atas nama salah satu organisasi pelajar di IIUI.

Desas-desus pengesampingan fakultas Ushuluddin memang sudah terdengar sejak universitas ini diambil alih ‘kekuasaan’nya oleh salah satu lembaga yang menangani masalah pendidikan sekolah tinggi di Pakistan, Higher Education Comission (HEC) dari ‘tangan’ Organization of the Islamic Conference (OIC) atau Organisasi Konferensi Islam (OKI) yang didirikan di Jeddah pada bulan Mei 1971. Sebenarnya dana dan sumbangan yang mengalir dari OIC sangat besar dan lancar. Tetapi dikarenakan ada ‘penghambat’ yang tidak bisa merealisasikan apa-apa yang diajukan, dan dengan segala macam manipulasi dan ‘penipuan’ orang-orang yang tidak bertanggung jawab dan yang hanya memikirkan ‘keenakan sementara’ untuk diri mereka sendiri, sehingga membuat rasa percaya OIC tinggal landas. Setelah HEC mengambil alih, dana yang didapat pun tidak lagi dari OIC, tapi dari Barat, Amerika khususnya, yang akhirnya dapat menyetir dan menentukan arah universitas ini terserah mereka.

Doktor-doktor yang mempunyai kapabilitas yang cemerlang dalam mengajar dan yang benar-benar menguasai dalam ilmu keagamaan,  ‘disingkirkan’ dari siklus IIUI. Salah satu contohnya Dr. Mahmood Ahmad Ghazi, seorang mantan menteri agama di Pakistan, yang kemudian menjadi presiden di IIUI, diturunkan dari kursi presidennya digantikan oleh Dr. Anwar Shidqi, setelah itu beliau menjadi dosen biasa di fakultas Shari’ah and Law, dan selanjutnya kurang –atau bahkan tidak- diperhatikan  di IIUI dan sekarang beliau melanjutkan khidmah tadris-nya di Qatar. Betapa kehilangannya mahasiswa IIUI dengan kepergian ‘sang ilmuwan’.  Begitu juga beberapa guru lainnya yang menyusul setelah kepergian beliau dari universitas ini. Dan sekarang, banyak dosen-dosen baru yang mengisi IIUI (khususnya di fakultas-fakultas blok Abu Hanifah lebih khusus lagi fakultas Ushuluddin) lulusan dari IIUI sendiri yang sebagian dari mereka dengan kapabilitas mengajar dan penguasaan ilmunya menyandang predikat ‘meragukan’.

Selain itu juga, di tingkat Bachelor of Arts (Honors) ( B.A {hons}) akan dihapuskan sistem takhosus-nya pada semester enam dan seterusnya. Sehingga akan diploroti keilmuan mahasiswa mulai dari tingkat dasar, agar lebih mudah untuk mempengaruhi dan mengobrak-abrik penguasaan dalam beberapa bidang keagamaan pada tingkat selanjutnya. Apalagi di tingkat B.A (hons) pada sebagian besar materinya diajar oleh dosen-dosen yang, sekali lagi pikirku, berpredikat “meragukan” dengan keilmuannya.  Sehingga, terkadang tidak membuka cakrawala pandangan seorang mahasiswa, tapi malah sebaliknya mempersempit dan bahkan membuat bingung, dengan apa yang diajarkan.

“Apakah itu semua arti ‘sekuler’ yang dikatakan Javed tadi itu ya….?” pikirku sambil berjalan menjauhi kerumunan demonstran menuju taman diantara dua blok A dan B.

“Roni….!!!” ada suara dari arah belakang memanggilku. Akupun menengok mencari arah suara dan….

“Eh Will…, kemana aja loe…? kok gue gag pernah ngeliat.”

“Biasa bro…, tau sendiri, kalo lagi ujian kan gue bersemedi di kamar biar ndapetin ilham…he.. he…he.. ., tadi loe ada ujian kagak?” ternyata si pemanggil tadi seorang temanku yang mempunyai prinsip membawa buku kemana saja (walaupun terkadang tidak dibaca he..he..he.. ), katanya sih biar kayak Alexander The Great muda yang pada waktu itu masih mengenyam pendidikan n’ pengajaran dari seorang Aristoteles. Pada waktu itu, ia menyeberangi Asia dengan membawa buku dan tetap membawa buku kemana saja dia pergi bahkan sampai tidur pun buku itu menjadi bantalnya. Seperti yang ditulis Michael Anthony Jackson dalam bukunya ‘Life Lessons from History’s Heroes’. Nama lengkap temanku itu sih Wildan Ahmad Bahauddin, yang selalu mengenalkan namanya dengan nama panggilan ‘Will’. Dia punya dua alasan dengan panggilan itu. Yang pertama, kemauan. Katanya, orang sebisa apapun kalau tidak mau ya gak akan terlaksana. Makanya kemauan itu unsur terpenting dalam kebanyakan kepentingan. Dia pun punya motto, “will is sense, but all sense without will is nonsense“. Sedangkan yang kedua, dia ngefans banget ama si Will Smith yang membintangi ‘I am The Legend’, ‘Hancock’, dan beberapa film lainnya.

“Wah, nyesel gw choi, td malem gag tidur, minum kopi 3 gelas, eh ujiannya diundur, bukan rejeki gw kali…” jawabku sambil merendahkan suara atas penyesalan SKS dan duduk di atas tembok tebal dan tinggi sekitar 40 cm dan 60 cm, dan sengaja dimanfaatkan sebagai bangku dimana mahasiswa terkadang menyirami dirinya dengan pro vitamin E disaat menunggu masuk kuliah pada jam 08.30, yang mengitari taman ditengah 2 blok, A dan B.

“Kasihan banget loe Ron… Hahh… sampe minum 3 gelas kopi..!!! yang bener aja…, hati-hati loh!!! Jangan terlalu banyak minum kopi, bro. Kopi itu mengandung kafein. Dan seperti yang gw baca, kafein memang bisa meningkatkan tekanan darah, merangsang system kerja jantung dan paru-paru. Sehingga kita tidak ngantuk dan tetap bisa hidup semalaman. Tapi kalo kebanyakan kafein itu bisa menyebabkan kanker dan kalo untuk ibu-ibu yang hamil mungkin juga bisa menyebabkan anaknya cacat.” Terangnya seperti seorang dokter.

“Yang bener aja Ron? Kayak dokter ja loe….”

“lah, loe gak percaya ma gue…, makanya sering-sering banyak baca, kan ilmu yang gak kita ketahui, jadi bisa tahu. Plus, loe jangan ‘bete’ gitu donk. Bete itu bisa menyebabkan stres. Masak hanya karena nyesel semalaman kena stres gitu. Nah, gw pernah mbaca artikel tentang stres juga. Stres itu bahaya bro, dari yang tingkat rendah sampe yang tingkat tinggi. Bahayanya bisa merusak kestabilan tubuh yang kemudian menimbulkan penyakit. Mulai dari penyakit yang biasa, pilek, perut, migrain, bahkan sampe ke serangan jantung. Ni lihat coba artikel ini, Harun Yahya euy..!!” diapun mulai merubah profesi yang tadi dari dokter menjadi psikiater. Dan menyodorkan sebuah artikel dari Adnan Oktar yang lebih dikenal dengan julukan Harun Yahya, scientist asal Turki, yang sudah diterjemahkan ke bahasa indonesia.

“Ternyata loe bisa dipercaya juga ya…, then, we must enjoy the life donk, pak psik? Tapi jangan salah juga, sekarang di San Diego, Amerika Serikat ada yang membisniskan stress. Kalo gak salah namanya Sarah Lovely. Lumayan euy 10 dolar per 15 menit hanya modal bolo pecah untuk di lempar, dibanting, diinjak-injak terserah dah, sepuasnya”

“Wahaha…, yupz, betul. Seratus buat pasien…, ya udah mendingan sekarang loe istirahat aja. Daripada menyesali takdir Allah yang baru saja terjadi ditambah gondok sendirian, mendingan pulang ke kamar trus istighfar dan tidur dah. Dan jangan lupa bersyukur juga. Coz ada hikmahnya, gue percaya banget, loe belum hafal 100% kan?” sarannya dengan gaya seorang ustadz Feri di film PPT.

“Yak toel…, Ternyata jozz juga ide loe Will, oke dah, gue cabut dulu. Daripada bingung juga mikirin universitas kita ini, karena dipikirin juga terkadang ia tidak mikirin kita. Mendingan jangan hanya dipikirkan, ditambah nglakuin plus enjoy aja sekarang, ditambah lagi nyiapin bekal untuk masyarakat kita, later, cepet lulus and bubye IIUI,” kataku sambil bersalaman & meninggalkannya. .{}

By: M. Dzaky Zamani

Entry filed under: Cerpen. Tags: , , , , .

Karena Aku Lelaki Suratan Illahi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Welcome

Selamat Datang di Blog FLP wilayah Pakistan Terimakasih telah mengunjungi blog kami

kalender

January 2010
M T W T F S S
« Apr    
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Tulisan terbaru

rubrik tulisan

Tulisan Terpopuler

Anda pengunjung ke

  • 4,216

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.